Kamis, 29 September 2016

WANITA TERBAIK



WANITA TERBAIK

Banyak definisi dari berbagai sumber tentang wanita terbaik akan tetapi
siapakah wanita terbaik menurut Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam?
Wanita yang terbaik itu pasti menjadi dambaan seorang suami, begitu pula sebaliknya, curahan kasih dan sayang suami adalah dambaan setiap istri.
Kasih dan sayang itu akan terus bersemi seiring dengan hadirnya akhlak-akhlak mulia yang terpancar dari sang permaisuri (baca: istri).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci”
(HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Begitu pula tempat seorang wanita di surga ataukah di neraka dilihat dari sikapnya terhadap suaminya, apakah ia taat ataukah durhaka.

Al Hushoin bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena satu keperluan. Seselesainya dari keperluan tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya,
أَذَاتُ زَوْجٍ أَنْتِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: كَيْفَ أَنْتِ لَهُ؟ قَالَتْ: مَا آلُوْهُ إِلاَّ مَا عَجَزْتُ عَنْهُ. قَالَ: فَانْظُرِيْ أينَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Apakah engkau sudah bersuami?” Bibi Al-Hushain menjawab, “Sudah.” “Bagaimana (sikap) engkau terhadap suamimu?”, tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lagi. Ia menjawab, “Aku tidak pernah mengurangi haknya kecuali dalam perkara yang aku tidak mampu.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lihatlah di mana keberadaanmu dalam pergaulanmu dengan suamimu, karena suamimu adalah surga dan nerakamu.”
(HR. Ahmad 4: 341 dan selainnya. Hadits ini shahih sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1933)

Dialah wanita terbaik yang tersurat dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berikut.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا. قَالَ: وَتَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, “Sebaik-baik wanita (istri) adalah wanita yang apabila engkau memandangnya, dia menyenangkanmu; apabila engkau menyuruhnya, dia menaatimu; dan apabila engkau tidak ada di hadapannya, dia akan selalu mengingat pesanmu untuk menjaga diri dan hartanya.” Kemudian, beliau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala,
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ
(HR. ath-Thayalisi no. 2444, Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya 3/941 no. 5255, ath-Thabari 5/60, Ahmad no. 7415, dll., dengan kesimpulan bahwa hadits ini shahih)

Muslimah yang dimuliakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam hadits ini Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menyebutkan kriteria wanita terbaik dambaan suami.

Beliau menyebutkan tiga sifat:
1.  Selalu berusaha membahagiakan suami.
2.  Selalu menaati perintah-perintah suami.
3.  Selalu menjaga wasiat suami ketika suami tidak ada, agar dia menjaga dirinya (tidak berbuat serong) dan menjaga hartanya.

Minggu, 25 September 2016

CARA MUDAH MEMAHAMI USHULTSALAATSAH

 CARA MUDAH MEMAHAMI USHULTSALAATSAH

Muqaddimah

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam untuk nabi dan rasul yang termulia, juga untuk keluarga dan para shahabatnya semua. Amma ba’du.

Ini adalah sebuah bingkisan yang diberkahi terhadap kitab “Ats Tsalatsatu Ushul wa Adilatuha“ milik Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdil Wahhab ( wafat th.1206 H ) Rahimahullah, yang telah ditulis oleh pena seorang yang alim Al Fadhil Muhammad At Thoyyib Al Anshori Al Madini ( Wafat th. 1362 H ) Rahimahullah.

Beliau menyusunnya dalam bentuk tanya jawab untuk mempermudah bagi para penuntut ilmu. Dan membantu bagi yang berhasrat mengambil ilmu. Kemudian aku sangat berkeinginan untuk mencetaknya dalam sebuah kemasan yang baru agar tersebar manfaatnya dan meluas dampak baiknya maka akupun menaruh perhatian untuk membenarkan huruf-hurufnya dan menata baris-barisnya dan mentahrij ayat-ayat serta hadits-haditsnya. Juga memberikan keterangan pada tempat-tempat yang diperlukan.
Semoga Allah memberikan manfaat dengan keberadaannya, memberikan apa yang menjadi tujuan pengarangnya. Allah penolang kita dan dia adalah sebaik-baik penolong.
10-8-1412 H
Ditulis oleh : Abu ‘Amr Shalih Al ‘Ashiimy

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Kepada-Nya kita mohon pertolongan.
Sholawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para shahabatnya semua
.
S : Apa empat masalah yang wajib bagi setiap manusia untuk mempelajarinya ?
J : Pertama : Ilmu yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal Agama Islam dengan dalil-dalilnya.
Kedua : Amal yaitu mengamalkan ilmu tersebut
Ketiga : Dakwah yaitu Mendakwahkan ilmu tersebut
Keempat : Sabar yaitu Bersabar atas berbagai ganguan dan rintangan dalam menuntut ilmu, beramal serta berdakwah.

Sabtu, 17 September 2016

ADA APA DENGAN KITAB AL-HIKAM

ADA APA DENGAN KITAB AL-HIKAM


Kitab al Hikam Dalam Timbangan Islam


Kitab al Hikam yang ditulis oleh Ibnu Atho’illah as Sakandari adalah kitab yang sangat popular di dunia dan juga di Indonesia. Kitab ini banyak dikaji di pondok-pondok pesantren dan bahkan di dalam siaran-siaran radio di banyak kota di Indonesia.

Kitab yang populer ini ternyata di dalamnya terdapat banyak sekali penyelewengan terhadap syari’at Islam. Karena itulah, insya Allah dalam pembahasan kali ini akan kami jelaskan beberapa saja di antara kesesatan-kesesatan yang ada dalam kitab ini, sebagai nasihat keagamaan bagi saudara-saudara kami kaum muslimin.

Penulis Kitab Al-Hikam Ini

Penulisnya adalah Abul Fadhl Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Atho’ullah as Sakandari.

Aqidah Wihdatul Wujud

Penulis berkata di dalam hikmah nomor 18-21:

“Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia yang terlihat di dalam segala sesuatu? Bagaimana akan dapat ditutupi oleh sesuatu, padahal Dia yang terlihat di dalam segala sesuatu? Bagaimana akan dapat di bayangkan bahwa Allah dapat di hijab oleh sesuatu, padahal Allah yang dzhohir sebelum adanya sesuatu? Bagaimana akan mungkin dihijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih nampak daripada segala sesuatu? Bagaimana mungkin akan dihijab oleh segala sesuatu, padahal Dia lah Yang Esa (tunggal) yang tidak ada bersamanya segala sesuatu?

Penulis juga berkata dalam hikmah nomor 46:

“Telah ada Allah, dan tiada sesuatu pun bersama-Nya, dan Dia kini sebagaimana ada-Nya semula.”

Kami katakan:

Ini adalah aqidah wihdatul wujud yang batil dan kufur. Aqidah tersebut merupakan kelanjutan dari pemikiran hulul. Pemikiran hulul dicetuskan pertama kali oleh Husain bin Manshur al Hallaj, ialah pemikiran kelompok Sufi yang menetapkan bahwa Allah menjelma pada segala sesuatu.

Menurut keyakinan wihdatul wujud tidak ada sesuatu pun kecuali Allah, segala sesuatu yang ada adalah penjelmaan Allah, tidak ada pemisahan antara al Kholiq dan makhluk. Keyakinan ini berasal dari pemikiran Hindu, Buddha, dan Majusi, sedangkan Islam berlepas diri dari keyakinan sesat ini.

Kamis, 01 September 2016

BANTAHAN UTK TAKFIRY BAG 2

BANTAHAN TAKFIRIY 2

Allah ta’ala berfirman :

فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” [QS. An-Nisaa’ : 65].


Melalui ayat ini Allah ta’ala menjelaskan kepada kita tentang kewajiban seorang muslim untuk :

a.    Berhukum dengan syari’at Allah yang terdapat dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam dalam segala urusan yang diperselisihkan.

b.    Bersikap ridla serta tidak sedikitpun merasa sempit dan berat dengan syari’at Allah yang akan/telah memutuskan segala urusannya.

Tentang kafir tidaknya orang yang berhukum dengan selain syari’at Allah ta’ala, maka ini membutuhkan perincian, sebagaimana telah dikatakan oleh para ulama salaf dan khalaf.

Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhumaa berkata :

من جحد ما أنزل الله فقد كفر. ومن أقرّ به ولم يحكم، فهو ظالم فاسقٌ.

“Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah, maka ia kafir. Barangsiapa yang mengikrarkannya namun tidak berhukum dengannya, maka ia dhalim lagi fasiq” [Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya 6/166 dan Ibnu Abi Haatim dalam Tafsir-nya 4/1142 no. 6426 & 4/1146 no. 6450; hasan lighiarihi].

Bantahan Untuk Takfiry

BANTAHAN ATAS SYUBHAT TAKFIRIYIN

Telah dimaklumi bahwa kelompok-kelompok Khawarij termasuk ISIS dan yang lainnya, mengkafirkan para penguasa muslim dan menjuluki mereka dengan thagut, bahkan ISIS berencana merebut Al-Haramain dari penguasa thagut Arab Saudi, menurut mereka.

Namun anehnya, ada sekelompok orang Syi’ah dan para simpatisan mereka yang menuduh bahwa Salafi sama dengan ISIS.

Tulisan ringkas ini insya Allah akan membedah akar pengkafiran Khawarij terhadap para penguasa, yang sangat berbeda dengan aqidah Salafi, Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Makna Kekafiran dan Pembagiannya

Kekafiran (الكفر) secara bahasa maknanya adalah (الستر) dan (التغطية), yang berarti menutup. Sedangkan menurut syari’at, kekafiran adalah lawan dari keimanan (ضد الإيمان). Dan terbagi dalam lima jenis, yaitu:

1) Mendustakan (كفرالتكذيب)

2) Menentang (كفر الإباء والاستكبار)

3) Ragu (كفر الشك)

4) Berpaling (كفر الإعراض)

5) Kemunafikan (كفر النفاق)

[Lihat Madarijus Salikin, karya Al-Imam Ibnul Qoyyim, 1/335-338]

Adapun tingkatan kekafiran terbagi dua:

1) Kekafiran besar (الكفر الأكبر), yang menyebabkan murtad (keluar dari Islam dan menjadi kafir)

2) Kekafiran kecil (الكفر الأصغر), yang tidak menyebabkan murtad.

[Lihat Majmu’ At-Tauhid, oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 6, sebagaimana dalam Aqidatul Muslim, karya Asy-Syaikh DR. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qohthoni, 1-2/621-626]

Senin, 22 Agustus 2016

IMAM DAN BACAANNYA

IMAM DENGAN LAHN JALIY
TIDAK SAH. CAMKAN !!

A. Siapa yang Paling Berhak Menjadi Imam?

Yang paling berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya. Kalau kemampuannya setara, maka dipilih yang paling dalam ilmu fiqhnya. Kalau ternyata kemampuannya juga setara, maka dipilih yang paling dulu hijrahnya. Kalau ternyata dalam hijrahnya sama, maka dipilih yang lebih dulu masuk Islam.

Dasarnya adalah hadits Abu Mas’ud Al-Anshari radliyallaahu ’anhu, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam telah bersabda :

”يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة، فإن كانوا في السنة سواءً فأقدمهم هجرة، فإن كانوا في الهجرة سواءً فأقدمهم سلماً – وفي رواية – سنّاً ولا يؤمّنَّ الرَّجلُ الرَّجلَ في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكْرِمَتِه إلا بإذنه“. وفي لفظ: ”يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله وأقدمهم قراءة، فإن كانت قراءتهم سواءً…“

”Yang berhak mengimami shalat adalah orang yang paling bagus atau paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Kalau dalam Al-Qur’an kemampuannya sama, dipilih yang paling mengerti tentang Sunnah. Kalau dalam Sunnah juga sama, maka dipilih yang lebih dahulu berhijrah. Kalau dalam berhijrah sama, dipilih yang lebih dahulu masuk Islam”. Dalam riwayat lain : ”…..yang paling tua usianya”. Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasannya, dan janganlah ia duduk di rumah orang lain di tempat duduk khusus/kehormatan untuk tuan rumah tersebut tanpa ijin darinya”.

Dan dalam lafadh yang lain : ”Satu kaum diimami oleh orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka dan yang paling berpengalaman membacanya. Kalau bacaan mereka sama…. (sama seperti lafadh sebelumnya). [HR. Muslim dalam kitab Al-Masaajid wa Mawaa’idlush-Shalaah, bab : Orang yang paling berhak menjadi imam, no. 673]

Yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya, ada yang menafsirkan: yang paling banyak hafalannya. Ada juga yang berpendapat bahwa artinya adalah yang paling bagus tajwid-nya dan paling bagus mutu bacaannya (أجودهم وأحسنهم وأتقنهم قراءة).

Namun yang paling benar adalah pendapat yang pertama, berdasarkan hadits ’Amr bin Salamah radliyallaahu ’anhu : ”… وليؤمكم أكثركم قرآناً“ : ”….hendaknya yang mengimami kalian orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya”. (HR. Al-Bukhari no. 4302)

Juga berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ’anhu : ”وأحقهم بالإمامة أقرؤهم“ : ”Yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya”. (HR. Muslim no. 672)

Selasa, 02 Agustus 2016

PERINCIAN TAWASUL

TAWASSUL YANG TIDAK BENAR


Alhamdulillâh, agama kita telah memberikan berbagai alternatif praktek tawassul yang benar. Namun amat disayangkan, tidak sedikit di antara kaum muslimin yang terpedaya oleh bisikan iblis, sehingga mereka menciptakan berbagai jenis tawassul ‘baru’ yang tidak memiliki landasan sahih (yang benar) dari al-Qur’ân maupun Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Tawassul yang syar’i saja belum mereka praktekkan semua, koq sudah mencari yang ndak syar’i ?! “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik ?”. [al-Baqarah/2:61]
Namun demikian, dalam menghukumi berbagai jenis tawassul ‘baru’ tadi kita tidak boleh gebyah uyah (pukul rata), semua divonis syirik, misalnya. Sebab ternyata ada di antara tawassul tersebut yang belum sampai derajat syirik, walaupun sudah dikategorikan bid’ah.

DUA JENIS TAWASSUL YANG TIDAK BENAR

Tawassul yang tidak syar’i bisa diklasifikasikan menjadi dua [1] :
1. Tawassul Syirik
Maksudnya, si pelaku tawassul berdoa memohon dan meminta kepada obyek tawassul, baik yang menjadi obyek yang dimintai itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , para wali atau yang lainnya.
Walaupun pelakunya menamakan praktek ini dengan tawassul, namun sebenarnya adalah perbuatan syirik, karena ia telah mempersembahkan ibadah kepada selain Allâh. Ibadah yang dimaksud adalah doa.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Barang siapa berdoa kepada sesembahan selain Allâh, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Rabbnya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak akan beruntung. [al-Mu’minûn/23:117]
Bentuk tawassul tersebut di atas bertentangan dengan prinsip ikhlas dalam berdoa. Imam as-Sam’âny (w. 489 H) menjelaskan, “Ikhlas dalam berdoa artinya: seorang hamba tidak berdoa kepada selain Allâh”.[2]
2. Tawassul Bid’ah
Maksudnya tawassul yang tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an atau hadits yang sahih, namun tidak mengandung unsur persembahan ibadah kepada selain Allâh Azza wa Jalla .