Senin, 22 Agustus 2016

IMAM DAN BACAANNYA

IMAM DENGAN LAHN JALIY
TIDAK SAH. CAMKAN !!

A. Siapa yang Paling Berhak Menjadi Imam?

Yang paling berhak menjadi imam shalat adalah orang yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya. Kalau kemampuannya setara, maka dipilih yang paling dalam ilmu fiqhnya. Kalau ternyata kemampuannya juga setara, maka dipilih yang paling dulu hijrahnya. Kalau ternyata dalam hijrahnya sama, maka dipilih yang lebih dulu masuk Islam.

Dasarnya adalah hadits Abu Mas’ud Al-Anshari radliyallaahu ’anhu, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ’alaihi wa sallam telah bersabda :

”يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة، فإن كانوا في السنة سواءً فأقدمهم هجرة، فإن كانوا في الهجرة سواءً فأقدمهم سلماً – وفي رواية – سنّاً ولا يؤمّنَّ الرَّجلُ الرَّجلَ في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكْرِمَتِه إلا بإذنه“. وفي لفظ: ”يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله وأقدمهم قراءة، فإن كانت قراءتهم سواءً…“

”Yang berhak mengimami shalat adalah orang yang paling bagus atau paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Kalau dalam Al-Qur’an kemampuannya sama, dipilih yang paling mengerti tentang Sunnah. Kalau dalam Sunnah juga sama, maka dipilih yang lebih dahulu berhijrah. Kalau dalam berhijrah sama, dipilih yang lebih dahulu masuk Islam”. Dalam riwayat lain : ”…..yang paling tua usianya”. Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasannya, dan janganlah ia duduk di rumah orang lain di tempat duduk khusus/kehormatan untuk tuan rumah tersebut tanpa ijin darinya”.

Dan dalam lafadh yang lain : ”Satu kaum diimami oleh orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka dan yang paling berpengalaman membacanya. Kalau bacaan mereka sama…. (sama seperti lafadh sebelumnya). [HR. Muslim dalam kitab Al-Masaajid wa Mawaa’idlush-Shalaah, bab : Orang yang paling berhak menjadi imam, no. 673]

Yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya, ada yang menafsirkan: yang paling banyak hafalannya. Ada juga yang berpendapat bahwa artinya adalah yang paling bagus tajwid-nya dan paling bagus mutu bacaannya (أجودهم وأحسنهم وأتقنهم قراءة).

Namun yang paling benar adalah pendapat yang pertama, berdasarkan hadits ’Amr bin Salamah radliyallaahu ’anhu : ”… وليؤمكم أكثركم قرآناً“ : ”….hendaknya yang mengimami kalian orang yang paling banyak hafalan Al-Qur’annya”. (HR. Al-Bukhari no. 4302)

Juga berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudri radliyallaahu ’anhu : ”وأحقهم بالإمامة أقرؤهم“ : ”Yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling bagus bacaan Al-Qur’annya”. (HR. Muslim no. 672)

Selasa, 02 Agustus 2016

PERINCIAN TAWASUL

TAWASSUL YANG TIDAK BENAR


Alhamdulillâh, agama kita telah memberikan berbagai alternatif praktek tawassul yang benar. Namun amat disayangkan, tidak sedikit di antara kaum muslimin yang terpedaya oleh bisikan iblis, sehingga mereka menciptakan berbagai jenis tawassul ‘baru’ yang tidak memiliki landasan sahih (yang benar) dari al-Qur’ân maupun Hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
Tawassul yang syar’i saja belum mereka praktekkan semua, koq sudah mencari yang ndak syar’i ?! “Apakah kalian meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik ?”. [al-Baqarah/2:61]
Namun demikian, dalam menghukumi berbagai jenis tawassul ‘baru’ tadi kita tidak boleh gebyah uyah (pukul rata), semua divonis syirik, misalnya. Sebab ternyata ada di antara tawassul tersebut yang belum sampai derajat syirik, walaupun sudah dikategorikan bid’ah.

DUA JENIS TAWASSUL YANG TIDAK BENAR

Tawassul yang tidak syar’i bisa diklasifikasikan menjadi dua [1] :
1. Tawassul Syirik
Maksudnya, si pelaku tawassul berdoa memohon dan meminta kepada obyek tawassul, baik yang menjadi obyek yang dimintai itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , para wali atau yang lainnya.
Walaupun pelakunya menamakan praktek ini dengan tawassul, namun sebenarnya adalah perbuatan syirik, karena ia telah mempersembahkan ibadah kepada selain Allâh. Ibadah yang dimaksud adalah doa.
Allâh Azza wa Jalla berfirman :
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Barang siapa berdoa kepada sesembahan selain Allâh, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Rabbnya. Sungguh orang-orang kafir itu tidak akan beruntung. [al-Mu’minûn/23:117]
Bentuk tawassul tersebut di atas bertentangan dengan prinsip ikhlas dalam berdoa. Imam as-Sam’âny (w. 489 H) menjelaskan, “Ikhlas dalam berdoa artinya: seorang hamba tidak berdoa kepada selain Allâh”.[2]
2. Tawassul Bid’ah
Maksudnya tawassul yang tidak ada tuntunannya dalam al-Qur’an atau hadits yang sahih, namun tidak mengandung unsur persembahan ibadah kepada selain Allâh Azza wa Jalla .

Jumat, 15 Juli 2016

SYAHID



MEMPERTAHANKAN NYAWA, HARTA, KELUARGA, DAN AGAMA ADALAH SYAHID
SEDANGKAN TERORIS, PENGEBOM MEMBABIBUTA BUKAN MEMBELA AGAMA

Ternyata orang yang membela diri dari tukang bekal atau perampok, lantas ia mati, maka ia bisa dicatat syahid. Adapun jika ia membela diri dan ia berhasil membunuh tukang begal tersebut, tukang begal itulah yang masuk neraka. Karena orang yang masih hidup itu cuma membela diri, sedangkan yang mati punya niatan untuk membunuh.
Di antaranya ada tiga hadits tentang masalah ini yang membahas bolehnya membela diri ketika berhadapan dengan tukang rampas, tukang rampok atau tukang begal yang ingin merampas harta kita.

Hadits Pertama
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ جَاءَ رَجُلٌ يُرِيدُ أَخْذَ مَالِى قَالَ « فَلاَ تُعْطِهِ مَالَكَ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَاتَلَنِى قَالَ « قَاتِلْهُ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلَنِى قَالَ « فَأَنْتَ شَهِيدٌ ». قَالَ أَرَأَيْتَ إِنْ قَتَلْتُهُ قَالَ « هُوَ فِى النَّارِ »
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ada seseorang yang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika ada seseorang yang mendatangiku dan ingin merampas hartaku?
Beliau bersabda, “Jangan kau beri padanya.”
Ia bertanya lagi, “Bagaimana pendapatmu jika ia ingin membunuhku?”
Beliau bersabda, “Bunuhlah dia.”
“Bagaimana jika ia malah membunuhku?”, ia balik bertanya.
“Engkau dicatat syahid”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Bagaimana jika aku yang membunuhnya?”, ia bertanya kembali.
“Ia yang di neraka”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim no. 140).

Sabtu, 09 Juli 2016

PENTINGNYA BERDOA

PENTINGNYA BERDO'A
DAN ANCAMAN BAGI YANG SOMBONG

[1]. Do’a adalah ibadah berdasarkan firman Allah :


وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Artinya : Berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. [Ghafir : 60].
Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Taqiyuddin Subki berkata : Yang dimaksud doa dalam ayat di atas adalah doa yang bersifat permohonan, dan ayat berikutnya ‘an ‘ibaadatiy menunjukkan bahwa berdoa lebih khusus daripada beribadah, artinya barangsiapa sombong tidak mau beribadah, maka pasti sombong tidak mau berdoa.
Dengan demikian ancaman ditujukan kepada orang yang meninggalkan doa karena sombong dan barangsiapa melakukan perbuatan itu, maka dia telah kafir. Adapun orang yang tidak berdoa karena sesuatu alasan, maka tidak terkena ancaman tersebut. Walaupun demikian memperbanyak doa tetap lebih baik daripada meninggalkannya sebab dalil-dalil yang menganjurkan berdoa cukup banyak. [Fathul Bari 11/98].
Dari Nu’man bin Basyir bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Artinya : Doa adalah ibadah”, kemudian beliau membaca ayat : “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu”. [Ghafir : 60].
Imam Hafizh Ibnu Hajar menuturkan bahwa Imam At-Thaibi berkata : Sebaiknya hadits Nu’man di atas difahami secara arti bahasa, artinya berdoa adalah memperlihatkan sikap berserah diri dan membutuhkan Allah, karena tidak dianjurkan ibadah melainkan untuk berserah diri dan tunduk kepada Pencipta serta merasa butuh kepada Allah. Oleh karena itu Allah mengakhiri ayat tersebut dengan firman-Nya : “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu”. Dalam ayat ini orang yang tidak mau tunduk dan berserah diri kepada Allah disebut orang-orang yang sombong, sehingga berdoa mempunyai keutamaan di dalam ibadah, dan ancaman bagi mereka yang tidak mau berdoa adalah hina dina. [Fathul Bari 11/98].
Catatan :
Hadits yang berbunyi :
“Artinya : Doa adalah inti ibadah” [Hadits Dhaif]
[Didhaifkan Al-Albani, Ta’liq ‘ala Misykatul Masabiih 2/693 No. 2231]

Menanam Pohon di Kuburan


Anggapan Manfaat

Pohon di Kuburan


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا
Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu , beliau berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wassalam melewati dua buah kuburan, lalu beliau bersabda, ‘Sungguh keduanya sedang disiksa, mereka disiksa bukan karena perkara besar (dalam pandangan keduanya). Salah satu dari dua orang ini, (semasa hidupnya) tidak menjaga diri dari  kencing, sedangkan yang satunya lagi, dia keliling menebar namimah.’ Kemudian beliau mengambil pelepah basah, beliau belah jadi dua, lalu beliau tancapkan di atas masing-masing kubur satu potong. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini ?’ Beliau menjawab, ‘Semoga mereka diringankan siksaannya selama keduanya belum kering.” “

Takhrij

Hadits ini diatas dikeluarkan oleh:
  • Imam Bukhari dalam Al Jami’ As Shahih (1/317-Fathul Baari) No. 216, 218, 1361, 1378, 6052 dan 6055
  • Imam Muslim dalam As Shahih(3/200 – syarah Imam Nawawi) No. 292
  • Imam Tirmidzi dalam Al Jami‘ (1/102) No. 70, dan beliau mengatakan, “Hadits Hasan Shahih”
  • Imam Abu Daud dalam As Sunan(1/5) No. 20
  • Imam Nasa’I dalam Al Mujtaba(1/28)
  • Imam Ibnu Majah dalam As Sunan (1/125) No. 237
Pemahaman Yang Benar Terhadap Hadits

Sabda beliau, إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ (Sesungguhnya mereka berdua sedang disiksa.). Kata ganti (mereka berdua-pent) adalah kata ganti untuk kubur, (namun) yang dimaksudkan adalah penghuni kubur.

HUKUM MENCELA PEMERINTAH/PENGUASA MUSLIM

HUKUM MENCELA PEMERINTAH/PENGUASA MUSLIM

Telah beredar tulisan-tulisan/artikel-artikel yang membenarkan cara menasihati penguasa muslim dengan cara memobilisasi massa, mengerahkan massa untuk  mengkritik penguasa muslim/pemerintah dengan cara terbuka, demonstrasi, dan yang semisalnya.

Mereka telah menulis sejumlah argument untuk membenarkan perkara tersebut, di antaranya adalah :


Syubhat Pertama:
MEREKA menyatakan bahwa hadits-hadits yang Melarang Mencerca Penguasa Secara Terbuka Derajatnya Lemah


Teks Hadits:

قَالَ عِيَاضُ بْنُ غَنْمٍ لِهِشَامِ بْنِ حَكِيمٍ أَلَمْ تَسْمَعْ بِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلا يُبْدِهِ عَلانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوا بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ
“Iyadh bin Ganm berkata kepada Hizyam bin Hakim radhiyallahu’anhuma: Tidakkah engkau mendengar sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam: Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkannya terang-terangan. Akan tetapi hendaklah ia meraih tangan sang penguasa, lalu menyepi dengannya. Jika nasihat itu diterima, maka itulah yang diinginkan. Namun jika tidak, maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban (menasihati penguasa).” [HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah: 1096]

Mereka  mendha’ifkan hadits ini dengan 4 alasan:
  1. Dalam riwayat Al-Hakim terdapat rawi yang lemah yaitu Ibnu Zuraiq
  2. Dalam riwayat Ahmad terdapat Syuraih bin ‘Ubaid yang riwayatnya terputus, tidak mendengar dari Hisyam dan ‘Iyadh
  3. Dalam riwayat Ibnu ‘Abi Ashim dalam As-Sunnah (1096) terdapat keterputusan sanad, dan dalam As-Sunnah (1097) trdapat rawi yang lemah yaitu Muhammad bin Ismail bin ‘Ayyash Al-Himshi, dan dalam As-Sunnah (1098) terdapat rawi yang lemah, yaitu Abdul Hamid bin Ibrahim
  4. Riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam lemah pada sanadnya masing-masing.
TANGGAPAN/BANTAHAN :

Pertama: Tentang Derajat Hadits

1). Dalam ta’liq Adz-Dzahabi rahimahullah terhadap Al-Mustadrak (no. 5269) karya Al-Hakim rahimahullah beliau memang mengatakan: “Ibnu Zuraiq waahin” dan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menjelaskan dalam Adh-Dhaifah (3/39) bahwa yang dimaksud dengan waahin menurut Adz-Dzahabi dan Al-Asqolani adalah: “Sangat lemah.” Akan tetapi terdapat penguat hadits ini dari jalan periwayatan yang lain yang tidak terdapat padanya Ibnu Zuraiq, yaitu dalam riwayat Ahmad (dishahihkan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arnauth), Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani), Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro dan lain-lain. Dan sebagaimana diketahui dalam ilmu hadits bahwa riwayat yang lemah terangkat menjadi kuat dengan adanya syawahid (penguat-penguat).
2). Adapun keterputusan sanad dalam riwayat Ahmad antara Syuraih bin ‘Ubaid (tabi’in) dan sahabat Hisyam dan ‘Iyadh, maka dalam riwayat Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (1097) terdapat Jubair bin Nufair yang menjadi penghubung antara Syuraih dan kedua sahabat (Hisyam dan ‘Iyadh), maka atas dasar ini Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menshahihkan hadits ini.
3). Sangkaan "MEREKA" bahwa riwayat Ibnu ‘Ashim dalam As-Sunnah (1096) terdapat keterputusan sanad, maka ini sudah terbantah sebagaimana pada tanggapan di atas.
Adapun dalam As-Sunnah (1097) terdapat rawi yang lemah yaitu Muhammad bin Ismail bin ‘Ayyasy Al-Himshi, maka ia menjadi kuat dengan dukungan riwayat yang sebelumnya (1096) yang tidak terdapat padanya Muhammad bin ‘Ayyasy, demikian keterangan Asy-Syaikh Al-Albani.
Di dalam As-Sunnah (1098) terdapat rawi yang lemah, yaitu Abdul Hamid bin Ibrahim. Akan tetapi dengan adanya jalan periwayatan lain,  ia terangkat menjadi kuat sebagaimana yang dipahami dalam ilmu hadits.
4). Adapun ucapan "MEREKA" bahwa riwayat Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam lemah pada sanadnya masing-masing, maka telah berlalu penjelasan di atas bahwa ada beberapa jalan yang tidak sampai pada tingkat “sangat lemah” sehingga menjadi kuat dengan seluruh jalan-jalannya, demikian kesimpulan Asy-Syaikh Al-Albani dan Asy-Syaikh Syu’aib Al-Arnauth.

Minggu, 05 Juni 2016

TATA CARA WUDHU


TATACARA WUDHU
Pembahasan Pertama: Pengertian Wudhu

استعمال الماء في الأعضاء الأربعة -وهي الوجه واليدان والرأس والرجلان- على صفة مخصوصة في الشرع، على وجه التعبد لله تعالى

Menggunakan air pada anggota tubuh yang empat – wajah, kedua tangan, kepala dan kedua kaki- menurut sifat (tatacara –ed) tertentu dalam syar’i dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’aala. (Al-Fiqh al-Muyasar, hlm 33)

Pembahasan Kedua: Keutamaan-Keutamaan Wudhu
Wudhu mempunyai keutamaan yang sangat banyak, diantaranya apa yang kami sebutkan dalil-dalinya dibawah ini:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

“Barangsiapa yang membaguskan wudhu keluarlah dosa-dosanya dari jasadnya sampai keluar dari  bawah kukunya.” (HR. Muslim  no. 245)
dalam hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوُضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُأَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُيَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

“Tidaklah salah seorang di antara kalian berwudhu dan sampai selesai atau menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia kehendaki.”
Dalam sebuah riwayat : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya” (HR. Muslim)
Dalam sebuah hadits dimana Utsman berkata,

رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti wudhuku ini dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ‘Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat tidak berkata-kata di jiwanya (khusyu’), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.’” (HR. Bukhari no. 159 dan Muslim no. 423)