Rabu, 15 Februari 2017

MENANGKAL SIHIR

MENANGKAL SIHIR


Ada beberapa orang yang berkeyaqinan bahwa sihir, santet, atau yang semisalnya adalah khayalan belaka. Mereka memiliki keyaqinan yang jelas jelas bertentangan dengan apa yang telah terjadi dan dialami langsung oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam.
Hadits2 yang shahih telah membuktikan tentang adanya sihir ini. Maka perlu kiranya kami sampaikan tentang bagaimana menangkal sihir ini.
Untuk menangkal sihir, bisa dengan dua metode, yakni  metode pertama adalah tindakan pencegahan untuk menghindari sihir, dan metode yang kedua adalah pengobatan bagi yang sudah terkena sihir.

Metode Pencegahan :

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindarinya:
1. Berusaha melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan, dan bertaubat dari setiap maksiat. Semua aktivitas ini akan menjadi sebab Allah melindunginya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberikan beberapa pesan kepada Ibnu Abbas, diantaraya:
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ
Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu jumpai Dia di hadapanmu…” (HR. Ahmad 2669, Tirmidzi 2516, dan dishahihkan al-Albani)
Makna hadis:
– Jagalah Allah : Jaga aturan Allah, laksanakan kewajiban dan hindari yang diharamkan.
– Kamu jumpai Dia di hadapanmu: Allah akan menolongmu dalam setiap keadaan yang engkau butuhkan.
2. Banyak membaca Alquran atau dzikir lainnya. Di antarannya adalah dzikir pagi petang dan dzikir sebelum tidur. Jadikan aktivitas ini sebagai wirid harian.
Orang yang rajin berdzikir, membaca Alquran, hatinya akan senantiasa hidup. Lebih dari itu, Allah menjanjikan orang yang membaca dzikir pagi petang, dia akan mendapatkan perlindungan dari-Nya.
3. Makan tujuh kurma Madinah setiap pagi. Ini berdasarkan hadis dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من أكل سبع تمرات مما بين لابتيها حين يصبح، لم يضره سم حتى يمسي
Siapa yang makan tujuh kurma dari daerah ini (Madinah) ketika pagi, maka tidak akan terkena bahaya racun, sampai sore.” (HR. Muslim 2047).
Dalam riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من اصطبح بسبع تمرات عجوة لم يضره ذلك اليوم سم ولا سحر
Siapa yang sarapan dengan 7 kurma ajwah, maka racun dan sihir tidak akan membahayakannya di hari itu.” (HR. Bukhari 5779 dan Muslim 2047).

Jumat, 10 Februari 2017

HAKEKAT WAHHABI

HAKEKAT WAHHABI
 

Penyematan kata Wahhabi1 kepada orang orang yang menegakkan tauhid dan menegakkan sunnah merupakan penilaian ‘miring’ terhadap dakwah tauhid yang dilakukan Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi rahimahullah­­. Julukan Wahhabi pun dimunculkan, tak lain tujuannya adalah untuk menjauhkan umat darinya. Dari manakah julukan itu? Siapa pelopornya? Dan apa rahasia di balik itu semua …?
Dakwah Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah pembaharuan terhadap agama umat manusia. Pembaharuan, dari syirik menuju tauhid dan dari bid’ah menuju As-Sunnah. Demikianlah misi para pembaharu sejati dari masa ke masa, yang menapak titian jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Fenomena ini membuat gelisah musuh-musuh Islam, sehingga berbagai macam cara pun ditempuh demi hancurnya dakwah tauhid yang diemban Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya. 
Musuh-musuh tersebut dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
Di Najd dan sekitarnya:
> Para ulama suu` yang memandang al-haq sebagai kebatilan dan kebatilan sebagai al-haq.
> Orang-orang yang dikenal sebagai ulama namun tidak mengerti tentang hakekat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya.
> Orang-orang yang takut kehilangan kedudukan dan jabatannya. (Lihat Tash-hihu Khatha`in Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah, karya Dr. Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir hal.90-91, ringkasan keterangan Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz)

Di dunia secara umum:
Mereka adalah kaum kafir Eropa; Inggris, Prancis dan lain-lain, Daulah Utsmaniyyah, kaum Shufi, Syi’ah Rafidhah, Hizbiyyun dan pergerakan Islam; Al-Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, dan para kaki tangannya. (Untuk lebih rincinya lihat kajian utama edisi ini/ Musuh-Musuh Dakwah Tauhid)

Rabu, 08 Februari 2017

BERMUAMALAH DENGAN ORANG KAFIR

BERMUAMALAH DENGAN ORANG KAFIR



Ada beberapa hal yang mestinya diketahui bahwa hal-hal ini tidak termasuk loyal (wala’) pada orang kafir. Dalam penjelasan kali ini akan dijelaskan bahwa ada sebagian bentuk muamalah dengan mereka yang hukumnya wajib, ada yang sunnah dan ada yang cuma sekedar dibolehkan.
Para pembaca -yang semoga dirahmati oleh Allah- kita harus mengetahui lebih dulu bahwa orang kafir itu ada empat macam:
  1. Kafir mu’ahid yaitu orang kafir yang tinggal di negeri mereka sendiri dan di antara mereka dan kaum muslimin memiliki perjanjian.
  2. Kafir dzimmi yaitu orang kafir yang tinggal di negeri kaum muslimin dan sebagai gantinya mereka mengeluarkan jizyah (semacam upeti) sebagai kompensasi perlindungan kaum muslimin terhadap mereka.
  3. Kafir musta’man yaitu orang kafir masuk ke negeri kaum muslimin dan diberi jaminan keamanan oleh penguasa muslim atau dari salah seorang muslim.
  4. Kafir harbi yaitu orang kafir selain tiga jenis di atas. Kaum muslimin disyari’atkan untuk memerangi orang kafir semacam ini sesuai dengan kemampuan mereka.[1]
Adapun bentuk interaksi dengan orang kafir (selain kafir harbi) yang diwajibkan adalah:
Pertama: Memberikan rasa aman kepada kafir dzimmi dan kafir musta’man selama ia berada di negeri kaum muslimin sampai ia kembali ke negerinya. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْلَمُونَ
Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.”(QS. At Taubah: 6)

Kamis, 19 Januari 2017

KESOMBONGAN

KESOMBONGAN


Manusia berbondong-bondong ber'amal shalih berharap akan menggapai surga Allah Ta'aala dengan 'amalan shalih tersebut tetapi dari sisi yang lain ternyata banyak pula yang menghancurkan harapannya itu karena faktor kesombongan.

Kesombongan atau takabur adalah puncaknya sedangkan dia memiliki turunan turunan di antaranya riya', sum'ah, dan ujub. Semua itu bisa meluluhlantakkan 'amalan shalih yang dikerjakannya bila dilandasi dengan sifat sifat di atas. Jika 75% saja amalan kita dirusak dengan riya' maka tentu kita sudah sangat merugi jika kita berani melihat tabungan dosa dosa kita yang sudah terkumpul bertumpuk tumpuk itu. Apakah hanya dengan 25% amalan shalih tersebut kita bisa selamat ? bagaimana bisa selamat bila dosa kita membumbung tinggi jauh dari prosentase amalan itu? Allahulmusta'an.
Tentu hanya kepada Allah Azza wa Jalla kita memohon agar dijauhkan dari sifat sifat perusak 'amal shalih kita yang sudah susahpayah kita kerjakan.

Lebih miris lagi bila riya', sum'ah, ujub itu telah menjelma menjadi takabur. Maka pelakunya diancam masuk neraka karena kesombongannya.

Jadi kesombongan merupakan salah satu akhlak buruk yang sungguh berbahaya yang wajib dihindari oleh setiap muslim Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi)

BERANIKAH UCAPKAN "AKU SALAFY" ?

AKU SALAFY

Akhir-akhir ini muncul syubhat yang antipati dengan salafy. Padahal yang dimaksud salafy ini adalah pengikut salaf, yakni mengikuti Rasulullah Shallahu'alaihi wasallam dan para sahabat beliau.

Dan lebih aneh lagi bila ada ustadz salafy yang dirinya enggan untuk mengatakan bahwa dia salafy, ini merupakan sebuah hal yang semestinya tidak terjadi, dan kejadian seperti ini timbul karena keraguraguannya pada manhaj yang haq ini.

Bisa juga terjadi karena pengaruh pengaruh syubhat yang dihembuskan oleh orang orang yang menyimpang sehingga mempengaruhi pemikirannya sehingga dirinyapun ikut menyimpang dalam keragu raguannya kepada manhaj salaf.

Seorang yang mengatakan: “Saya seorang Salafy” atau “Saya adalah pengikut Manhaj Salaf” bukanlah artinya ia meninggikan dirinya dan mengklaim dialah yang paling benar dalam segalanya. Sesungguhnya pernyataan tersebut menunjukkan cita-cita dan harapannya ingin sebenar-benarnya mengikuti teladan para Salafus Sholih dengan sebaik-baiknya pada seluruh sendi Dien.

Sebagaimana seorang yang mengatakan: “Saya muslim”. Apakah orang yang mengatakan demikian telah mengklaim dirinya adalah orang yang telah menjalankan syariat Islam secara sempurna? Jelas tidak. Ia mengatakan demikian dengan pengakuan dalam hati akan kekurangan pada dirinya. Ia bercita-cita ingin menjadi muslim yang menjalankan syariat Islam dengan baik dan terus memperbaiki dirinya.
Sehingga, ketika seorang menyatakan: Saya adalah pengikut Salaf, seakan-akan ia berkata: “Mari bersatu dalam Islam ini dengan menjadikan Salaf sebagai panutan kita. Jika antum mengetahui ada ajaran Salaf yang belum saya ketahui, sampaikan pada saya, karena saya sangat ingin meneladani para Salafus Sholih itu dengan baik. Namun, kami tegaskan bahwa jangan sekali-kali mengajak kami pada hal-hal yang sudah jelas bertentangan dengan manhaj Salaf, karena kami hanya mau mengikuti manhaj Salaf dalam Dien ini. Kamipun mengajak antum semua untuk mengikuti manhaj Salaf, karena sesungguhnya manhaj Salaf itu adalah Islam yang murni”.
Seorang pengikut manhaj Salaf yang haq tidak akan pernah mengklaim bahwa ia dan orang-orang yang sekarang bersamanya pasti akan masuk Jannah (Surga). Karena tidak ada yang tahu akhir kehidupan seseorang kecuali Allah. Ia tidak akan pernah tahu apakah ia akan terus menjadi pengikut manhaj Salaf hingga akhir hayatnya atau justru berakhir menjadi pengikut hawa nafsu, wal iyaadzu billah.
Ia juga tidak akan pernah tahu apakah rekan-rekan yang sekarang bersamanya, menuntut ilmu bersamanya, bahkan gurunya sendiri yang masih hidup akan terus di atas manhaj Salaf hingga akhir hayatnya. Ia juga tidak akan pernah tahu apakah amal yang ia lakukan ini diterima oleh Allah, atau justru ia adalah orang yang munafik, mengaku mengikuti manhaj Salaf secara lahiriah, namun secara batin membencinya, wal iyaadzu billah. Ia tidak bisa menjamin apakah amalnya bersih dari riya’ atau tidak. Ia sendiri bahkan tidak bisa mengklaim bahwa satu saja amal ibadah yang telah ia lakukan sudah diterima oleh Allah atau tidak.
Ia hanya bisa memastikan secara umum bahwa siapapun saja yang mengikuti manhaj Salaf dengan baik hingga akhir hayatnya, pasti masuk Jannah (Surga), sebagaimana dalil-dalil yang sedemikian banyak menunjukkan demikian. Karena manhaj Salaf pada hakikatnya adalah Islam yang sebenarnya. Adapun untuk orang perseorangan atau individu, ia tidak berani menyatakan bahwa fulaan pasti masuk surga dan fulaan pasti masuk neraka, kecuali orang-orang tertentu yang telah dipastikan oleh Allah dan RasulNya pasti masuk Surga dan Neraka.
Ia hanya bisa selalu berdoa memohon hidayah kepada Allah dan dikokohkan di atas manhaj Salaf, dan diberi akhir kehidupan yang baik. Ia akan berusaha memilih rujukan dalam bacaan, ataupun mendengarkan kajian-kajian dari orang yang sudah jelas keilmuannya dalam manhaj Salaf berdasarkan rekomendasi dari orang-orang yang terpercaya. Ia akan selektif memilih sumber ilmu dalam Dien ini, sebagai bentuk penjagaan terhadap manhaj yang sangat berharga bagi dirinya. Seorang pengikut manhaj Salaf akan selalu mengikuti dalil al-Quran dan as-Sunnah dengan pemahaman Ulama Salaf, dengan bimbingan para Ulama yang nyata-nyata bermanhaj Salaf yang masih hidup sejaman dengannya.
Ia akan berusaha dan bersemangat menuntut ilmu yang shahih, berusaha mengamalkan, berusaha mendakwahkan sesuai kemampuannya, dan bersabar di atas manhaj yang haq ini.
Ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim sebagaimana ia suka kebaikan itu terjadi untuk dirinya. Karena itu ia bersemangat untuk mendakwahkan Ilmu Sunnah yang telah diketahuinya. Ia juga peringatkan saudaranya kaum muslimin dari bahaya kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan karena cinta dan sayangnya pada kaum muslimin.
Kadang dalam mendakwahkan manhaj Salaf ini ia dicela dan bahkan dikafirkan oleh saudaranya sesama muslim, namun ia tidak akan membalas mengkafirkan saudaranya itu, selama memang ia masih muslim.
Dakwah Salaf adalah ajakan kepada Sunnah, sehingga pada dasarnya pengikut manhaj Salaf adalah Ahlussunnah. Dakwah Salaf bukanlah ajakan pada pribadi atau kelompok maupun golongan tertentu secara ashobiyyah (fanatik buta). Telah disampaikan di atas bahwa penamaan ‘Salaf’ bukanlah penamaan yang mengada-ada, tapi sesungguhnya berasal dari ucapan Nabi, Sahabat beliau, dan para Ulama Ahlussunnah setelahnya.
Jika di masa Nabi, cukup seorang mengatakan: Saya muslim. Karena di masa itu hanya ada kafir dan muslim secara dhahir. Tidak ada kebid’ahan atau hal-hal baru yang diada-adakan di masa Nabi. Cukup seorang mengatakan : Saya muslim sebagai pembeda dengan orang-orang kafir.
Namun, saat mulai muncul kebid’ahan, maka para Sahabat mulai memberikan pembeda antara ajaran Islam yang murni dengan ajaran Islam yang sudah mulai terkontaminasi dengan kebid’ahan. Sebagaimana Ibnu Abbas memisahkan antara Ahlus Sunnah dengan Ahlul Bid’ah dalam salah satu penafsirannya.
Saat orang-orang mulai banyak yang senang memahami dalil al-Quran dan dalil Sunnah Nabi dengan pikirannya sendiri, atau pemikiran para tokoh-tokoh kelompoknya, atau thoriqoh yang dipilihnya, maka saat itulah perlu pembeda antara pengikut manhaj Salaf dengan yang bukan. Perlu pembeda antara orang-orang yang memunculkan hal-hal baru dalam Dien ini dengan orang-orang yang masih istiqomah tetap mengikuti ajaran Islam yang murni terdahulu.

Wallahua'lam.

Selasa, 10 Januari 2017

NASEHAT OBAT HATI

OBAT HATI


Al Imam Abul Walid Al Bajiy
رحمه الله berkata:
“Orang yang sudah tobat dari maksiat, jika dia telah tobat dan baik tobatnya, maka tidak pantas untuk dirinya dicela dari perkara tadi.” (“Al Muntaqo Syarhul Muwaththo”/4/hal. 277).

Al Imam Ibnul Qoyyim رحمه الله : “Andaikan Allah menyiksa para penduduk langit-Nya dan bumi-Nya niscaya Dia berhak berbuat itu terhadap mereka, dan mereka memang pentas mendapatkan siksaan ketika disiksa, kareba amalan mereka tidak cukup untuk keselamatan mereka.
Sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :
«لن ينجى أحدا منكم عمله»
“Tidak akan salah seorang dari kalian bisa diselamatkan oleh amalannya.”
Mereka bertanya: “Apakah Anda juga demikian wahai Rosululloh?”
Beliau menjawab:
«ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمة منه وفضل».
“Akupun demikian, kecuali bahwasanya Allah meliputiku dengan rohmat dan karunia dari-Nya.”
Maka rohmat-Nya untuk mereka itu bukanlah bayaran dari amalan mereka ataupun juga sebagai harga untuk amalan mereka, karena rohmat-Nya itu lebih baik daripada amalan mereka, sebagaimana dalam hadits itu sendiri:
«ولورحمهم لكانت رحمته لهم خيرا لهم من أعمالهم»
“Dan seandainya Dia merohmati mereka niscaya rohmat-Nya itu lebih baik daripada amalan mereka,”
Yaitu: menggabungkan antara dua perkara dalam hadits ini bahwasanya Allah andaikata Dia menyiksa mereka niscaya Dia menyiksa mereka karena mereka memang berhak disiksa, dan tidaklah Allah menzholimi mereka, dan bahwasanya Dia andaikata merohmati mereka niscaya yang demikian itu adalah semata-mata karunia-Nya dan kedermawanan-Nya, karena rohmat-Nya itu lebih baik daripada amalan mereka. Maka semoga sholawat dan salam Allah tercurah pada orang yang ucapan tadi keluar dari bibirnya pertama kali, karena sungguh beliau adalah makhluk yang paling mengenal Allah dan hak-Nya, dan paling mengetahui tentang-Nya, keadilan-Nya, karunia-Nya dan hikmah-Nya, dan apa saja yang menjadi hak Dia terhadap para hamba-Nya.
            Dan ketaatan para hamba semua itu tidaklah menjadi pembayaran untuk kenikmatan Allah pada mereka, dan tidak setara dengan kenikmatan-Nya pada mereka. Bahkan tidak setara dengan sedikit dari kenikmatan-Nya itu. Maka bagaimana mereka dengan amalan mereka berhak menuntut agar Allah menyelamatkan mereka sementara ketaatan orang yang taat itu tidak sebanding dengan satu kenikmatan dari kenikmatan-kenikmatan Allah pada-Nya? Maka tersisalah seluruh kenikmatan itu menuntut dirinya untuk bersyukur, sementara sang hamba dengan kemampuannya tidak melaksanakan kewajiban dirinya yang menjadi hak Allah terhadapnya? Maka seluruh hamba-Nya itu adalah di bawah pemaafan-Nya, rohmat-Nya dan karunia-Nya. Maka tiada seorangpun yang selamat dari mereka kecuali dengan maaf-Nya dan ampunan-Nya, dan tiada yang berhasil mendapatkan Jannah kecuali dengan karunia-Nya dan rohmat-Nya. Dan jika keadaan para hamba adalah demikian, maka andaikata Dia menyiksa mereka, niscaya Dia menyiksa mereka tanpa Dia zholim terhadap mereka. Bukan karena Dia berkuasa terhadap mereka karena mereka adalah milik Dia, tapi karena mereka memang berhak untuk disiksa. Dan andaikata Dia merohmati mereka pastilah yang demikian itu adalah dengan karunia-Nya, bukan karena amalan-alaman mereka.” (“Miftah Daris Sa’adah”/2/hal. 109).

Kamis, 05 Januari 2017

AWAS BAHAYA MUNAFIQ



Definisi Nifaq

Nifaq secara istilah berarti menampakkan keimanan kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, dan kepada hari akhir, akan tetapi menyembunyikan sesuatu yang menjadi kebalikannya, baik seluruhnya maupun sebagiannya. Definisi yang lain adalah seorang  menampakkan secara dhohir amalan yang disyariatkan tetapi menyembunyikan perkara yang haram yang menyelisihi dhohirnya.
Di dalam AlQur’an banyak disebutkan bahaya sifat nifaq. Diantaranya Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu adalah orang-orang yang fasiq.” [QS. At-Taubah: 67]
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Mereka adalah orang-orang yang keluar dari jalan kebenaran dan masuk ke jalan kesesatan”(Tafsir Ibnu Katsir).
Allah ta’ala juga menjadikan orang-orang munafiq(nifaq akbar) lebih jelek daripada orang-orang kafir. Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu tempatnya di keraknya neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” [QS. An-Nisaa’: 145].
Sungguh terdapat perbedaan yang sangat besar antara seorang mukmin dan orang munafik. Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Seorang mukmin memadukan antara ihsan(amalan yang baik) dan rasa takut(kalau amalnya tidak diterima). Artinya meskipun dia telah berbuat kebaikan tetapi hatinya tetap disertai harap dan takut kepada Allah Azza wa Jalla.
Adapun seorang munafik memadukan antara perbuatan jelek dan perasaan aman dari adzab Allah.” Meskipun dia telah menumpuk numpuk dosa yang banyak, dan semakin menjauhi jalan yang haq, tetapi dia justru merasa aman dari adzab Allah ta’aala dan semakin merasa tenang dan bebas melakukan kemaksiyatan tanpa ada rasa takut yang menghalanginya.