Senin, 10 Desember 2018

PENGAKUAN SALAFY SEJATI BUKANLAH HAKIKAT

🔥   *MENGAKU SALAFY SEJATI*
*BENARKAH AHLUSSUNNAH SEJATI?*

Perkembangan dakwah sunnah di Indonesia cukup signifikan dan mengalami progres yang sangat baik. Berbagai media sarana dakwah sangat menunjang bagi perkembangan dakwah sunnah hingga ke pelosok pelosok daerah.

Tetapi ternyata ada  kenyataan yang tengah terjadi dan cukup mengganggu perkembangan dakwah sunnah di negeri ini. Ada sekelompok orang yang mengaku ngaku kelompok mereka sebagai ahlussunnah sejati, salafiy sejati, dan yang lain dianggap dan divonis sebagai salafy KW atau imitasi, atau ahlussunnah palsu.. Allahulmusta'aan.

Vonis tersebut didasari dengan alasan alasan otak atik gathuk, hanya mencari cari kesalahan dan muter muter saja di dalam urusan urusan yang tidak layak dijadikan tolok ukur untuk mengeluarkan orang lain dari ahlussunnah dan memvonisnya sebagai ahlibid'ah.

Fitnah ini melanda menyeluruh ke pelosok negeri hingga menjadikan umat saling bermusuhan, parahnya tuduhan tuduhan keji tersebut diarahkan kepada parapenyeru dakwah sunnah.

Maka paraulamaa kibar telah memberikan nasehat-nasehat, arahan bimbingan yang gamblang agar kita menjauhi jalan mereka yang melampaui batasan kebenaran.

Berikut nasehat yang sangat berharga untuk kita realisasikan :

🛡 Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz
Al-Allamah, al-Mufti al-Alim, Samahatus Syaikh Abdil Aziz bin Abdullah bin Bazz – rahimahullahu- berkata, sebagaimana termuat dalam harian al-Jazirah, ar-Riyadh, asy-Syirqul Awsath, Sabtu 22/6/1412 H, sebagai berikut :

“Telah merebak di zaman ini tentang banyaknya orang-orang yang menisbatkan diri kepada ilmu (tholibul ‘ilm, pent.) dan terhadap dakwah kepada kebajikan (da’i, pent.) yang mencela kehormatan kebanyakan saudara-saudara mereka para du’at yang masyhur dan memperbincangkan kehormatan (menjelekkan, pent.) para thullabul ‘ilm (penuntut ilmu), para du’at dan khatib (penceramah). Mereka melakukannya secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) di dalam majelis-majlis mereka, dan bisa jadi ada yang merekamnya di kaset-kaset kemudian disebarkan kepada manusia. Terkadang pula mereka melakukannya secara terang-terangan di dalam muhadharah ‘am (ceramah umum) di masjid-masjid. Cara ini menyelisihi dengan apa-apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya, dengan beberapa alasan :

Minggu, 09 Desember 2018

HARAMNYA SERANGGA

⛔ *HARAMNYA SERANGGA*


Salah satu dalil yang menjadi batasan dalam hal ini adalah firman Allah,

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“Dia menghalalkan untuk mereka (umatnya) hal-hal yang baik (thayibat) dan mengharamkan untuk mereka al-makanan yang menjijikkan (Khabaits).”
(QS. al-A’raf: 157).

Salah satu cara Allah memuliakan orang mukmin, Allah mengarahkan mereka untuk hanya makan yang thayyibat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

“Hai orang yang beriman, makanlah at-Thayyibaat (makanan yang baik).” (al-Baqarah: 172)

Apakah hasyarat termasuk makanan yang halal, ataukah haram, di sana ada 2 pendapat ulama,

Pertama, haram makan hasyarat, karena termasuk khabaits, sesuatu yang menjijikkan jika dikonsumsi

Ini merupakan pendapat jumhur ulama di kalangan Hanafiyah, sebagian Malikiyah, Syafiiyah, dan Hambali.

Selasa, 27 November 2018

ADAB ISLAM

🔰 ADAB-ADAB DALAM ISLAM

Adab dalam pandangan Islam bukanlah perkara remeh. Bahkan ia menjadi salah satu inti ajaran Islam. Demikian penting perkara ini, hingga para ulama salaf sampai menyusun kitab khusus yang membahas tentang adab ini.

Dahulu di zaman jahiliyyah, telah terjadi kerusakan adab dan moralnya kepada Rabbul'aalamiin.


Imam al-Baji, sebagaimana dinukil oleh Imam Abdul Baqi al-Zurqani (w. 1122 H) menuturkan:

كَانَتِ الْعَرَبُ أَحْسَنَ النَّاسِ أَخْلَاقًا بِمَا بَقِيَ عِنْدَهُمْ مِنْ شَرِيعَةِ إِبْرَاهِيمَ،

“Dahulu orang Arab dikenal sebagai sebaik-baiknya manusia dari akhlaknya karena apa yang tersisa di sisi mereka dari syari’at ajaran Nabi Ibrahim

وَكَانُوا ضَلُّوا بِالْكُفْرِ عَنْ كَثِيرٍ مِنْهَا

Mereka pun tersesat dari sebagian besar di antaranya

فَبُعِثَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيُتَمِّمَ مَحَاسِنَ الْأَخْلَاقِ بِبَيَانِ مَا ضَلُّوا عَنْهُ وَبِمَا خُصَّ بِهِ فِي شَرْعِهِ.

maka diutus Rasulullahh –shallallâhu ‘alayhi wa sallam- untuk menyempurnakanmahâsin al-akhlâq dengan menjelaskan kesesatannya dan dengan pengkhususan dalam syari’atnya.”

(Muhammad bin ‘Abdul Baqi al-Zurqani, Syarh al-Zurqaniy ‘Alâ Muwaththa’ al-Imâm Mâlik, Kairo: Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyyah, cet. I, 1424 H, juz IV, hlm. 404)

Senin, 29 Oktober 2018

Manhaj Firqah Najiyah

🔰 *MANHAJ GOLONGAN*
          *YANG SELAMAT*

1. الفرقة الناجية : هي التي تلتزم منهاج رسول الله صلى الله عليه و سلم في حياته، و منهاج أصحابه من بعده ،
Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah dalam hidupnya, serta manhaj para sahabat sesudahnya

 و هو القرآن الكريم الذي أنزله الله على رسوله، و بينه لصحابته في أحاديثه الصحيحة ،
Yaitu Al-Qur’anul Karim yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yang beliau jelaskan
kepada para sahabatnya dalam hadits-hadits shahih

 و أمر المسلمين بالتمسك بهما
Beliau memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepa-da keduanya:

 فقال : “تركتُ فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما : كتاب الله و سنتي، و لن يتفرقا حتى يردا عليّ الحوض ” (صححه الألباني في الجامع)
“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat
apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga kedua-nya menghantarku ke telaga (Surga).”
(Di-shahih-kan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)

Kamis, 18 Oktober 2018

Allah Diatas Arsy

💎 ALLAH  ﷻ DI ATAS 'ARSY

Sesungguhnya, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan Ahlus-Sunnah, bahwa Allah berada di ketinggian, di atas langit, di atas ‘Arsy-Nya. Dalil-dalil tentang hal ini sangat banyak, di antaranya sebagai berikut.

1. Berita Allah pada tujuh tempat di dalam Al-Qur’ân, bahwa Dia istiwa` (berada di atas) ‘Arsy atau singgasana-Nya. Antara lain, firman Allah Ta’ala:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

Rabb yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy. [Thaha/20:5].

Adapun ayat-ayat lainnya, yaitu surat al-A’râf/7 ayat 54, surat Yunus/10 ayat 3, surat ar-Ra’d/13 ayat 2, surat al-Furqân/24 ayat 59, surat as-Sajdah/32 ayat 4, surat al-Hadid/57 ayat 4.

‘Arsy, secara bahasa artinya singgasana, kursi tempat duduk raja. Adapun ‘Arsy Allah Ta’ala, ialah sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil. Yaitu tempat duduk yang memiliki kaki-kaki, dipikul oleh para malaikat, dan ‘Arsy itu seperti kubah di atas alam, dan merupakan atap seluruh makhluk.

2. Berita Allah di dalam banyak ayat Al-Qur`ân, bahwa Dia berada di atas. Antara lain, firman Allah Ta’ala:

بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [an-Nisâ`/4:158].

Taat Ulil Amri

✨📢 TAAT KEPADA PEMERINTAH
         JANGAN MENGKAFIRKANNYA

Para ulama kaum muslimin seluruhnya sepakat akan kewajiban taat kepada pemerintah muslim dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” [An-Nisa’: 59]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا

“Aku wasiatkan kalian agar senantiasa taqwa kepada Allah serta mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun pemimpin tersebut seorang budak dari Habasyah.” [HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dari ‘Irbad bin Sariyah radhiyallahu’anhu]

Al-Imam Abu Ja’far Ath-Thahawi rahimahullah menjelaskan diantara prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah,

ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أُمورنا ، وإن جاروا ، ولا ندعوا عليهم ، ولا ننزع يداً من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله عز وجل فريضةً ، ما لم يأمروا بمعصيةٍ ، وندعوا لهم بالصلاح والمعافاة

“Dan kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zalim. Kami tidak mendoakan kejelekan kepada mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan itu bukan kemaksiatan (kepada Allah). Dan kami doakan mereka dengan kebaikan dan keselamatan.” [Matan Al-Aqidah Ath-Thahawiyah]

Rabu, 17 Oktober 2018

JANGAN MENGIKUTI HAWA NAFSU

🔰 *JANGAN MENGIKUTI HAWA NAFSU*


Secara bahasa, hawa nafsu adalah kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hatinya. Kecintaan tersebut sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allâh Azza wa Jalla . Oleh karena itu hawa nafsu harus ditundukkan agar bisa tunduk terhadap syari’at Allâh Azza wa Jalla . Adapun secara istilah syari’at, hawa nafsu adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.

Syaikhul Islam t berkata, “Hawa nafsu asalnya adalah kecintaan jiwa dan kebenciannya. Semata-mata hawa nafsu, yaitu kecintaan dan kebencian yang ada di dalam jiwa tidaklah tercela. Karena terkadang hal itu tidak bisa dikuasai. Namun yang tercela adalah mengikuti hawa nafsu, sebagaimana firman Allâh Azza wa Jalla :

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

Hai Daud! sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allâh. [Shâd/38: 26] [Majmû’ Fatâwâ, 28/132]